Kamis, 06 Desember 2012

Sinopsis Novel Layar Terkembang, Karya: St. Takdir Alisjahbana




 

                                                        Pengarang : St. Takdir Alisjabana
                                          Penerbit  : PT Balai Pustaka(persero)
                                          Tebal Buku  : Original 198 Halaman
Diceritakan Tuti dan Maria adalah saudara kandung. Putri Raden Wiriatmadja yang bernama Tuti, adalah  seorang gadis yang pendiam, teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Tuti sangat serius jika sedang melakukan sesuatu, ia juka suka berdiam diri dariapda berbicara yang tidak penting. Sedangkan adiknya yang bernama Maria, Ia seorang gadis yang selalu aktif dan lincah, juga periang.
Suatu hari,Mereka pergi jalan-jalan untuk bersenang-senang, dan mereka terkesan ketika melihat sebuah akuarium. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda yang tampan bernama Yusuf. Merekapun akhirnya berkenalan dan berbincang-bincang semakin akrab, Yusuf adalah seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab. Sewaktu pulang pun Yusuf ikut dengan mereka untuk mengenal lebih dekat. Dengan demikian Tuti dan Maria pulang bersama-sama dengan  Yusuf. Pertemuan itu ternyata berkesan cukup mendalam bagi Yusuf . Ia selalu teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta kelakuan dan cara bicaranya yang selalu ceria itu, membuat siapa saja yang melihatnya merasa senang dan bersemangat.
Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Mereka semakin akrab dengan berbincang-bincang sambil berjalan-jalan.Sejak itu, Yusuf semakin sering bertamu ke rumah Maria, untuk bertemu Maria. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa.
Tapi Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.
Ketika liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan tanah leluhurnya, namun ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Pada saat itu, Yusuf menerima surat dari Maria yang justru membuatnya makin rindu. Maria mengirimkan surat untuk yang kedua kalinya. Kali ini mengabarkan perihal perjalannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura.
Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Sepasang kekasih itu pun melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria. Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku.
Kedekatan Maria dengan Yusuf membuat Tuti menjadi Sangat tidak suka dengan Yusuf. Tuti sangat berhati dalam memilih seorang lelaki dalam hidupnya. Tuti pun pernah mengalami pernikahan yang gagal. Tuti tidak ma memilki suami yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga Tuti tidak ingin adikny, Maria mendapat suami yang tidak benar. Tapi Maria tidak mendegarkan apa kata Tuti, malah Maria menjadi marah kepada Tuti karena telah menjelek-jelekan Yusuf.
Esoknya Yusuf mengajak Maria jalan-jalan untuk menunjukan cintanya kepada Maria. Tapi tiba-tiba Maria mendadak terkena demam malaria dan mereka langsung pulang. Tuti menjaganya dengan sabar. Tapi saat itulah tiba-tibadatang  adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti tentang pernyataan cintanya dan untuk menjalin cinta dengannya. Namun Tuti menolaknya, karena Tuti merasa Supomo bukan lelaki idamannya. Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat.
Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih. Namun keadaannya tidak
juga mengalami perubahan. Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya ia sudah pasrah menerima kenyataan. Suatu ketika , disaat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah mata Tuti mulai terbuka memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Maria pun akhirnya meninggal dunia. Sebelummeninggal  Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga. Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria. Lalu untuk memenuhi permintaan Maria, akhirnya Tuti dan Yusuf pun menikah dan menjalin sebuah Rumah tangga.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar